Tentang Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2020

Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional adalah peringatan tahunan yang diadakan setiap tanggal 5 November. Peringatan ini pertama kali ditetapkan pada tahun 1993 melalui Keputusan Presiden No. 4 Tahun 1993.

Kekayaan puspa dan satwa Indonesia sangatlah tinggi. Untuk jenis burung saja, sedikitnya Indonesia memiliki 1762 spesies, mamalia 746 spesies, reptil 510 spesies, amfibi 419 spesies, dan ikan 3591 spesies. Sedangkan untuk kekayaan puspa, jumlahnya bisa mencapai 150.000 spesies. Belum lagi dengan jenis satwa dari taksa arthropoda yang bisa mencapai lebih dari 2.000 spesies

Jumlah di atas hanyalah sebagian yang baru tereksplorasi, seiring dengan penelitian-penelitian terbaru, bukan tidak mungkin kekayaan hayati ini akan terus bertambah.

Di tahun 2020 ini, HCPSN mengangkat tema “Puspa dan Satwa Harapan Untuk Ketahanan Pangan dan Kesehatan”. Selain itu, ada dua maskot ikonik yang diangkat untuk mewakili tema tahun ini yaitu, Kecombrang/Honje (Etlingera elatior) sebagai maskot puspa, dan Rusa Timor (Cervus timorensis) sebagai maskot satwa.

Kecombrang, kantan, atau honje adalah sejenis tumbuhan rempah dan merupakan tumbuhan tahunan berbentuk terna yang bunga, buah, serta bijinya dimanfaatkan sebagai bahan sayuran. Nama lainnya adalah kincung (Medan), bungong kala (Aceh), bunga rias (Tapanuli), asam cekala (Karo), kumbang sekala (Lpg.), sambuang (Mng.) serta lucu (Banyuwangi). Di Bali disebut kecicang sedangkan batang mudanya disebut bongkot kecicang dan keduanya bisa dipakai sambal (sambal matah).

Rumpun honje
Honje berwarna kemerahan seperti jenis tanaman hias pisang-pisangan. Jika batangnya sudah tua, bentuk tanamannya mirip jahe atau lengkuas, dengan tinggi mencapai 5 m. Batang-batang semu bulat gilig, membesar di pangkalnya; tumbuh tegak dan banyak, berdekatdekatan, membentuk rumpun jarang, keluar dari rimpang yang menjalar di bawah tanah. Rimpangnya tebal, berwarna krem, kemerah-jambuan ketika masih muda. Daun 15-30 helai tersusun dalam dua baris, berseling, di batang semu; helaian daun jorong lonjong, 20-90 cm × 10–20 cm, dengan pangkal membulat atau bentuk jantung, tepi bergelombang, dan ujung meruncing pendek, gundul namun dengan bintik-bintik halus dan rapat, hijau mengkilap, sering dengan sisi bawah yang keunguan ketika muda.

Bunga dalam karangan berbentuk gasing, bertangkai panjang 0,5-2,5 m × 1,5-2,5 cm, dengan daun pelindung bentuk jorong, 7–18 cm × 1–7 cm, merah jambu hingga merah terang, berdaging, melengkung membalik jika mekar. Kelopak bentuk tabung, panjang 3-3,5 cm, bertaju 3, terbelah. Mahkota bentuk tabung, merah jambu, hingga 4 cm. Labellum serupa sudip, sekitar 4 cm panjangnya, merah terang dengan tepian putih atau kuning.

Buah berjejalan dalam bongkol hampir bulat berdiameter 10–20 cm; masing-masing butir 2-2,5 cm besarnya, berambut halus pendek di luarnya, hijau dan menjadi merah ketika masak. Berbiji banyak, coklat kehitaman, diselubungi salut biji (arilus) putih bening atau kemerahan yang berasa masam.

Manfaat
Kecombrang atau bunga honje terutama dijadikan bahan campuran atau bumbu penyedap berbagai macam masakan di Nusantara. Kuntum bunga ini sering dijadikan lalap atau direbus lalu dimakan bersama sambal di Jawa Barat. Kecombrang yang dikukus juga kerap dijadikan bagian dari pecel di daerah Banyumas. Di Pekalongan, kecombrang yang diiris halus dijadikan campuran pembuatan megana, sejenis urap berbahan dasar nangka muda.

Di Tanah Karo, buah honje muda disebut asam cekala. Kuncup bunga serta “polong”nya menjadi bagian pokok dari sayur asam Karo; juga menjadi peredam bau amis sewaktu memasak ikan. Masakan Batak populer, arsik ikan mas, juga menggunakan asam cekala ini,kuncup bunganya juga biasanya di masak dengan daun Singkong menjadi gule bulung gadung masakan khas Tapanuli bagian Selatan.Di Palabuhanratu, buah dan bagian dalam pucuk honje sering digunakan sebagai campuran sambal untuk menikmati ikan laut bakar.

Di Sulawesi Selatan, tanaman dan buah honje disebut sebagai “patikala” sebagai bumbu masakan untuk ikan kuah kuning atau pallu mara dan juga masakan kapurung di daerah Luwu dan bumbu berbagai jenis sayuran semacam urap. Tunas tanaman ini dipercaya menyembuhkan penyakit panas dalam dengan cara dipanggang / dibakar lalu dikonsumsi isinya.

Honje juga dapat dimanfaatkan sebagai sabun dengan dua cara: menggosokkan langsung batang semu honje ke tubuh dan wajah atau dengan mememarkan pelepah daun honje hingga keluar busa yang harum yang dapat langsung digunakan sebagai sabun. Tumbuhan ini juga dapat digunakan sebagai obat untuk penyakit yang berhubungan dengan kulit, termasuk campak.

Nilai nutrisi per 100 g (3,5 oz)
Energi = 0 kJ (0 kcal); Karbohidrat = 4.4 g; Serat pangan = 1.2 g; Lemak = 1.0 g; Protein = 1.3 g; Air = 91 g; Kalsium = 32 mg (3%); Besi = 4 mg (32%); Magnesium = 27 mg (7%); Fosfor = 30 mg (4%); Kalium = 541 mg (12%); Zink = 0.1 mg (1%) (Persentase merujuk kepada rekomendasi Amerika Serikat untuk dewasa)

Dari rimpangnya, orang-orang Sunda memperoleh bahan pewarna kuning. Pelepah daun yang menyatu menjadi batang semu, pada masa lalu juga dimanfaatkan sebagai bahan anyamanyaman; yaitu setelah diolah melalui pengeringan dan perendaman beberapa kali selama beberapa hari. Batang semu juga merupakan bahan dasar kertas yang cukup baik.

Dikutip dari Steemit, tanaman yang dikenal dengan banyak nama di berbagai daerah ini memiliki banyak manfaat kesehatan dari kandungan yang dimilikinya.

  1. Mengandung kalium tinggi
    Bunga kecombrang mengandung kalium mencapai 541 mg. Nilai ini merupakan angka yang besar, cukup untuk memenuhi kebutuhan kalium Anda. Kalium memiliki banyak fungsi yang terkait dengan penyerapan nutrisi dalam tubuh. Tanpa kalium yang cukup, tubuh Anda secara alami mengalami kegagalan dalam penyerapan nutrisi, sehingga tubuh tidak berkembang dan menjadi kurang gizi.
  2. Menetralisir asam
    Tanaman ini akan bermanfaat bagi Anda yang memiliki gangguan perut atau lambung. Konsumsilah bunga kecombrang ini dengan memasukkannya ke masakan Anda. Selain membuat masakan menjadi lebih harum, kecombrang juga memiliki peran yang sangat kuat untuk menyembuhkan gangguan lambung.
  1. Memiliki kandungan zat besi
    Zat besi di kecombrang mencapai 4 mg. Angka ini cukup kuat untuk meningkatkan jumlah zat besi dalam darah Anda. Setelah mengonsumsinya, diharapkan Anda akan bebas dari anemia, hipotensi, dan gangguan kekurangan zat besi lainnya. Tubuh Anda pun akan merasa bugar.
  1. Penambah nafsu makan
    Jika kita mengalami penurunan nafsu makan yang drastis, segera temukan obatnya. Sebab, apabila nafsu makan dibiarkan melemah, bisa memicu berbagai penyakit, terutama Anoreksia. Anda pasti telah melihat bagaimana Anoreksia yang mengerikan ini dapat mengancam jiwa. Jadi, untuk mencegahnya, kita bisa minum obat herbal alami dari sayuran ini agar nafsu makan Anda membaik.
  1. Sumber serat makanan
    Jika Anda memiliki gangguan pencernaan seperti sembelit, sebaiknya segera obati usus Anda dengan tanaman yang satu ini. Sebab, bunga kecombrang mengandung banyak serat yang andal dalam membersihkan usus Anda dari residu dan bakteri yang menyebabkan sembelit.
  1. Memiliki kandungan kalsium
    Selain potasium, ternyata Kecombrang juga mengandung kalsium sebanyak 3 persen atau sekitar 32 mg / 100 gram. Kalsium adalah zat yang baik sebagai tulang penyusun mineral utama. Dengan mengosumsi kaya kalsium, maka tulang Anda terlindungi dari osteoporosis dan gangguan lainnya.
  1. Menghilangkan bau amis
    Banyak orang tidak suka aroma atau bau amis pada ikan atau daging, karena dapat membuat mual dan pusing. Kecombrang sendiri dapat digunakan untuk menghilangkan bau amis. Caranya mudah, yakni cukup rebus ikan atau daging dengan kelopak ini. Tidak diragukan lagi,
    aroma tidak sedap atau amis tersebut akan hilang.
  1. Mengandung air
    Air dalam sayuran berfungsi dengan baik untuk tubuh karena bisa menghindari tubuh dari gangguan kulit dan ginjal. Air di Kecombrang juga sangat banyak. Ditandai dengan kerutan atau susut bunga ini jika direbus hingga 50 persen.
  1. Rendah lemak
    Lemak dalam kecombrang hanya ditemukan 1 mg hanya untuk 1 ons. Angka ini tentu saja jumlah yang sangat kecil. Jadi, bisa dipastikan bahwa mengonsumsi tanaman ini tidak akan membuat Anda mengalami obesitas. Sayuran ini pun sangat cocok untuk menu diet Anda.
  1. Tingkat fosfor tinggi
    Gigi Anda sering bermasalah seperti rapuh dan mudah pecah untuk selanjutnya menjadi berlubang? Pada kondisi itu, Anda mungkin kekurangan fosfor. Maka, Anda membutuhkan asupan makanan fosfor yang tinggi, dan bisa ditangani dengan mengonsumsi kecombrang. Sertakanlah kecombrang ke dalam berbagai hidangan favorit Anda. Hidangan yang paling disukai orang adalah sambal kecombrang.

Rusa timor merupakan salah satu rusa asli Indonesia selain rusa bawean, sambar, dan menjangan. Rusa timor yang mempunyai nama latin Cervus timorensis diperkirakan asli berasal dari Jawa dan Bali, kini ditetapkan menjadi fauna identitas provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Rusa timor sering juga disebut sebagai rusa jawa. Dalam bahasa Inggris, rusa timor mempunyai beberapa sebutan seperti Javan Rusa, Javan Deer, Rusa, Rusa Deer, dan Timor Deer. Sedangkan dalam bahasa latin (ilmiah) binatang ini disebut sebagai Cervus timorensis yang mempunyai beberapa nama sinonim seperti Cervus celebensis (Rorig, 1896), Cervus hippelaphus (G.Q. Cuvier, 1825), Cervus lepidus (Sundevall, 1846), Cervus moluccensis (Quoy & Gaimard, 1830), Cervus peronii (Cuvier, 1825), Cervus russa (Muller & Schlegel, 1845), Cervus tavistocki (Lydekker, 1900), Cervus timorensis (Blainville, 1822), dan Cervus tunjuc (Horsfield, 1830).

Ciri-ciri Fisik dan Perilaku. Rusa timor (Cervus timorensis) yang ditetapkan menjadi fauna identitas NTB, mempunyai bulu berwarna coklat kemerah-merahan hingga abu-abu kecoklatan dengan bagian bawah perut dan ekor berwarna putih.

Rusa timor dewasa mempunyai panjang badan berkisar antara 195-210 cm dengan tinggi badan mencapai antara 91-110 cm. Rusa timor (Cervus timorensis) mempunyai berat badan antara 103-115 kg walaupun rusa timor yang berada dipenangkaran mampu memiliki bobot sekitar 140 kg. Ukuran rusa timor ini meskipun kalah besar dari sambar (Cervus unicolor) namun dibandingkan dengan rusa jenis lainnya seperti rusa bawean, dan menjangan, ukuran tubuh rusa timor lebih besar.

Rusa jantan memiliki tanduk (ranggah) yang bercabang. Tanduk akan tumbuh pertama kali pada anak jantan saat umur 8 bulan. Setelah dewasa, tanduk menjadi sempurna yang ditandai dengan terdapatnya 3 ujung runcing.

Rusa timor (Cervus timorensis) merupakan hewan yang dapat aktif di siang hari (diurnal) maupun di malam hari (nokturnal), tergantung kondisi habitatnya.

Rusa timor sebagaimana rusa lainnya termasuk hewan pemamah biak yang menyukai daun-daunan dan berbagai macam buah-buahan Rusa memakan berbagai bagian tumbuhan mulai dari pucuk, daun muda, daun tua, maupun batang muda.

Umumnya rusa timor bersifat poligamus yaitu satu penjantan akan mengawini beberapa betina. Rusa betina mempunyai anak setiap tahun dengan sekali musim rata-rata satu ekor anak.

Habitat dan Persebaran. Rusa timor diperkirakan berasal dari pulau Jawa dan Bali yang kemudian tersebar ke berbagai wilayah di Indonesia. Bahkan telah diintroduksi juga ke berbagai negara seperti Australia, Mauritius, Kaledonia, Selandia Baru, Papua Nugini, dan Timor Leste.

Habitat rusa timor adalah padang rumput pada daerah beriklim tropis dan subtropis, namun binatang ini mampu beradaptasi di habitat yang berupa hutan, pegunungan, dan rawa-rawa. Rusa yang menjadi fauna identitas Nusa Tenggara Barat ini dapat hidup hingga ketinggian 900 meter dpl.

Populasi dan Konservasi. Populasi rusa timor secara keseluruhan diperkirakan sekitar 10.000 hingga 20.000 ekor dewasa. Berdasarkan jumlah populasi dan persebarannya, rusa timor dimasukkan dalam status konservasi “vulnerable” (Rentan) oleh IUCN Red List.

Populasi rusa timor terbesar terdapat di TN. Wasur, Papua dengan populasi sekitar 8.000 ekor (1992). Populasi di Jawa justru megalami pengurangan yang sangat besar. Seperti di TN. Baluran sekitar 1.000 ekor (2008).

Ancaman utama terhadap rusa timor berasal dari perburuan yang dilakukan oleh manusia untuk mengambil dagingnya. Penurunan populasi juga diakibatkan oleh berkurangnya lahan dan padang penggembalaan (padang rumput) di Taman Nasional yang menjadi habitat rusa timor.

Hilangnya padang rumput ini ada yang diakibatkan oleh konversi menjadi lahan pertanian dan pemikiman juga oleh kesalahan pengelolaan seperti penanaman pohon yang yang kemudian merubah padang rumput menjadi hutan semak seperti yang pernah terjadi di TN. Baluran.

Pemanfaatan. Pemanfaatan rusa sebagai jenis yang dilindungi telah dilakukan berdasarkan PP Nomor 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar. Bentuk pemanfaatannya dapat berupa pengkajian, penelitian dan pengembangan; penangkaran; perburuan; perdagangan; peragaan; pertukaran; dan pemeliharaan untuk kesenangan.
Pengurusan ijin pemanfaatan diatur dalam Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 447/Kpts-II/2003 tentang Tata Usaha Pengambilan atau Penangkapan dan Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar. Pemanfaatan dapat dilakukan oleh perorangan, badan hukum, koperasi, atau lembaga konservasi.

Pemanfaatan rusa sebagai jenis satwa yang memiliki nilai ekonomis, terutama dari jenis rusa timor, sudah banyak dilakukan melalui penangkaran di Indonesia. Penangkaran tersebut merupakan salah satu upaya konservasi jenis dan populasi. Penangkaran yang dimaksud merupakan upaya perbanyakan melalui pengembangbiakan dan pembesaran rusa dengan tetap memperhatikan kemurnian jenis sampai pada keturunan pertama (F1). Manfaat yang diperoleh, selain untuk tujuan konservasi adalah aspek eko-wisata (keunikan dan keindahannya) dan aspek pemenuhan kebutuhan protein hewani serta hasil ikutan lainnya (keturunan ke-2/F2 dan seterusnya). Hasil penangkaran rusa juga memiliki prospek untuk dikembangkan dalam skala budidaya komersial, sehingga asumsi hutan sebagai sumber pangan dapat terpenuhi.

Referensi:
Redlist IUCN
Achmad M. Thohari, et al.2011, Teknis Penangkaran Rusa Timor (Cervus timorensis) untuk Stok Perburuan, Fakultas Kehutanan IPB, Bogor

Sumber gambar perangko & kartu pos: https://filatelisindonesia.wordpress.com

Flora & Fauna TNGHS